Rabu, 20 September 2023

Unsur Pembeda Berpikir Sinkronis Dan Diakronis

Dalam bidang linguistik, terdapat dua cara untuk melihat bahasa, yaitu berpikir sinkronis dan diakronis. Berpikir sinkronis berarti memandang bahasa pada satu waktu tertentu, sementara diakronis berarti melihat bahasa secara sejarah, atau perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Kedua cara pandang ini memiliki unsur pembeda yang dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Fokus
Salah satu unsur pembeda berpikir sinkronis dan diakronis adalah fokus. Berpikir sinkronis fokus pada keadaan bahasa pada satu waktu tertentu, sedangkan diakronis fokus pada perkembangan bahasa dari waktu ke waktu. Dalam berpikir sinkronis, peneliti lebih menitikberatkan pada penggunaan bahasa pada saat itu, seperti kosakata yang digunakan atau bentuk tata bahasa yang lazim. Sementara dalam berpikir diakronis, peneliti memeriksa bagaimana bentuk bahasa telah berkembang dari waktu ke waktu, seperti perubahan dalam kosakata atau konvensi ejaan yang berubah.

2. Konteks
Unsur pembeda berikutnya adalah konteks. Berpikir sinkronis berfokus pada bahasa pada satu waktu tertentu, sehingga dapat melihat bahasa dalam konteks spesifik. Misalnya, bahasa yang digunakan dalam acara formal dan informal akan berbeda. Sementara itu, berpikir diakronis melihat bahasa dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam rentang waktu yang lebih panjang. Sehingga dapat memahami bahasa pada periode tertentu.

3. Sistematis
Unsur pembeda berpikir sinkronis dan diakronis lainnya adalah sistematis. Berpikir sinkronis menyoroti bagaimana tata bahasa dan kosakata saling terkait pada suatu waktu tertentu, sehingga dapat memahami bahasa dalam kerangka sistematis yang ada. Sementara itu, berpikir diakronis melihat bagaimana bahasa berkembang dari waktu ke waktu, dan bagaimana perubahan dalam sistematisitas bahasa memengaruhi penggunaan bahasa di masa depan.

4. Analitis
Unsur pembeda terakhir adalah analitis. Berpikir sinkronis melihat bahasa sebagai sesuatu yang konstan pada waktu tertentu, sehingga menganalisis bahasa dengan cara yang lebih terperinci. Sedangkan berpikir diakronis menganalisis bahasa dari sudut pandang historis, dan melihat bagaimana bahasa berubah dari waktu ke waktu.

Dalam studi linguistik, baik berpikir sinkronis maupun diakronis diperlukan untuk memahami bahasa secara utuh. Berpikir sinkronis membantu peneliti memahami bagaimana bahasa digunakan pada saat itu, sementara berpikir diakronis membantu memahami bagaimana bahasa berkembang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, keduanya saling melengkapi dan tak dapat dipisahkan dalam studi bahasa.

Secara umum, unsur pembeda berpikir sinkronis dan